Catatnseorangukhty's Blog

Just another WordPress.com weblog

Bolehkah Akhwat Menolak Lamaran? Oktober 25, 2010

Filed under: Munakahat — catatanseorangukhty @ 9:57 am

Pada tulisan kali ini, masih mengenai munakahat. Beberapa saat yang lalu, ada seorang akhwat yang sempat membaca blog saya yang saat ini sudah non aktif mengenai akhwat yang membatalkan khitbah, akhwat tersebut bertanya bagaimana jika seorang akhwat menolak lamaran seorang ikhwan? Sementara ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa

Apabila datang kepadamu seorang yang engkau sukai agama dan akhlaknya untuk mengkhitbah, maka terimalah! Kalau tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar dii muka bumi” (HR.Tirmidzi)

Sampai akhirnya pada sebuah kesempatan saya sempat menanyakannya pada seorang ustadz yakni Ust. Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si mengenai hadits diatas. Menurut beliau, hadits diatas sering dijadikan senjata oleh banyak ikhwan untuk “menjerat” akhwat yang disukainya untuk menerima lamarannya, padahal sebenarnya sang akhwat merasa kurang “berminat” dengan sang ikhwan. Beliau menabahkan kalau kita lebih cermat dan lebih memahami konteks hadits itu secara utuh, sebenarnya hadits tersebut ditujukan pada wali sang akhwat, bukan kepada sang akhwat, karena pada sebuah redaksi berbeda disebutkan

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)

Dari hadits di atas nampak jelas, bahwa sesungguhnya seorang wali akhwat hendaknya menjadikan faktor akhlak dan keshalehan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan jodoh untuk anaknya. Sementara akhwatnya itu sendiri diberi kebebasan untuk menerima atau menolak lamaran siapapun, baik yang melamar itu ‘ikhwan’ ataupun ‘preman’.

Namun, para akhwat juga perlu memahami, walaupun akhwat mendapatkan kebebasan untuk menolak lamaran seorang ikhwan, sang akhwat juga harus tetap mempertimbangkan masak-masak mengenai keputusannya. Dan seharusnya tetap menyandarkan semua keputusan terhadap ketentuan atau petunjuk Allah SWT dari jalan shalat istikharoh. Karena bagaimanapun, seorang manusia tidak lebih tau mana yang terbaik baginya, bisa jadi apa yang dianggapnya baik justru tidak baik menurut Allah begtu pula sebaliknya.

Alangkah baiknya seorang akhwat untuk memantapkan  pilihan ingin menerima atau menolak hendaknya tentukan  kriteria pilihan  terlebih dahulu, mencakup kemampuan finansial,  latar belakang  status sosial keluarga, status pendidikan, faktor penampilan, dan yang paling utama adalah faktor keshalehan, bagaimana  pemahaman dan pengamalan pada agamanya (Islam).Dalam sebuah hadits disebutkan

Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, pasti kamu beruntung.” (HR Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah r.a.)

Selanjutnya penting pula adanya rasa ketertarikan, rasa saling suka di antara keduanya, jadi tidak  bertepuk sebelah tangan. Rasulullah Saw bersabda, “Bila salah seorang di antara kamu meminang seorang wanita, kalau bisa melihat apa-apa yang menarik untuk nikah dengannya maka lakukanlah.” Atau keterangan lain menjelaskan, diriwayatkan bahwa Mughiroh bin Syu’bah melamar seorang wanita maka Nabi bersabda kepadanya: “Lihatlah dia, sesungguhnya yang demikian itu lebih pantas untuk merukunkan di antara kamu.”

Apabila setelah ta’aruf (saling kenal), sambil memanjatkan doa istikharah memohon petunjuk pada Allah SWT, tapi ternyata hasilnya hati cenderung dan mantap tidak menemukan kecocokan pada sang ikhwan, tidak tertarik padanya, maka jangan ragu untuk menolak, dari sekarang, jangan sampai menunda-nunda, nanti seolah–olah memberi harapan pada ikhwan tersebut.  Utarakanlah secara jelas,  tegas  atau  diplomatis, bisa lisan langsung pada orangnya, lewat media tulisan, media telepon, handphone, chatting, terserah mana yang paling mudah, tetap hati-hati, karena ikhwan tersebut bukan muhrim.

Semoga ulasan tersebut bermanfaat, wallaahu a’lam bishowab.

Nb: dari berbagai sumber

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s